TERBAKARNYA PRAJA ANANTA RAYA


Praja Ananta Raya telah jadi abu. Hangus jadi arang dan puing-puing berserakan. Rumah utama berarsitektur Jawa yang berlokasi di Taman Tanjung Puri  Sidoarjo pada Jumat malam (20/4) tiba-tiba saja terkena sambaran petir dan terbakar hangus. Alat penangkal petir  yang terpasang tidak mampu meredam takdir dari Yang Kuasa. Sudah menjadi Kehendak-NYA, bila rumah kayu simbol tegaknya budaya Jawa di tengah arus modern itu kini tinggal nama.

Saya tertegun dan hanyut. Hati saya menangis….

Teringat awal pembangunan Taman Tanjung Puri sekitar Agustus 2014 lalu saya diminta Kepala Dinas Kebersihan, Ki Bahrul Amig, untuk mencarikan perabot etnis Jawa untuk mengisi rumah yang sudah selesai dibangun. Kebetulan saya memiliki teman seorang penjual barang-barang antik. Meja bundar dari keramik, kursi-kursi ajengan, tanduk rusa dan beberapa benda lain yang biasanya ada di rumah-rumah Jawa Kuno pun akhirnya kita datangkan. Lengkap sudah rasanya rumah itu disebut “Omah Jowo”. Atas sumbangan dari kolega-kolega  Ki Bahrul Amig, dilengkapilah secara bertahap dengan berbagai benda pusaka seperti keris dan lainnya.

“Ini untuk pengingat bahwa sampai saat ini masih ada usaha pelestarian budaya Jawa. Biar kita tidak lupa, dimana kita berada,” Kata Ki Bahrul Amig ketika ditanya mengapa dia punya ide membangun Taman Tanjung Puri –taman tumbuhan dan pepohonan beserta rumah jogjo, rumah panggung beserta pendoponya berarsitektur Jawa.

Seperti kisah Bandung Bondowoso yang membangun dalam waktu semalam, Tanjung Puri dibangun hanya dalam waktu empat bulan saja!. Dimulai bulan Juni 2014 akhirnya  Taman Tanjung Puri yang awalnya tempat pembuangan sampah disulap menjadi ruang terbuka hijau yang jadi ikon kota Sidoarjo. Ia diresmikan oleh Bupati Sidoarjo sekitar Oktober 2014. Masyarakat memanfaatkannya untuk banyak kebutuhan. Seperti menggelar kegiatan outdoor camping kemah, atau kegiatan anak-anak sekolah mengenal alam sekitarnya. Taman tanjung puri tidak pernah sepi pengunjung. Di hari Senin sampai Jumat, taman dipakai oleh sekolah-sekolah untuk menggelar beragam kegiatan.

Di hari Sabtu dan Minggu, masyarakat umum memanfaatkannya untuk menggelar kegiatan hiburan rekreatif. Seperti gantangan burung berkicau, flying fox, atau hanya sekedar jalan-jalan keluarga. Masyarakat di sekitar tanjung puri pun mendapat keuntungan. Dulu sebelum taman dibangun, lokasi itu adalah tempat pembuangan akhir sampah. Baunya menyengat dan pasti tidak membuat masyarakat betah di rumahnya. Setelah taman dibangun, masyarakat bisa berjualan kopi dan makanan kecil. Pemuda setempat juga mendapatkan uang dari parkir kendaraan para pengunjung.

Pada Milad KAMPUS WONG ALUS (KWA) ke-9  tahun 2018 kemarin, Taman Tanjung Puri kita gunakan sebagai tempat acara dengan pertimbangan bahwa tempat itu sangat kondusif. Serta tidak terlalu ramai dari pengunjung. Sehingga KWA bisa menggelar acara dengan tenang mulai pagi sampai tengah malam. Terlebih fasilitas untuk pengunjung pun sudah tercukupi seperti adanya pendopo, rumah utama (yang kini terbakar), rumah panggung untuk sekedar merebahkan badan. Serta fasilitas tambahan seperti mushola, taman bermain, dan toilet umum. Lengkap sudah.

Saat Milad rumah utama digunakan panitia untuk tempat koordinasi. Di depannya, digunakan untuk pameran keris dan bagi-bagi kaos serta menyimpan properti dari panitia. Rencananya kegiatan rutin cangkrukan Kamis malam juga kita adakan di Taman Tanjung Puri yaitu di pendopo –depan rumah terbakar tersebut.

Silahkan dilihat foto rumah utama ketika masih berdiri tegar di https://wongalus.wordpress.com/2018/04/15/serba-serbi-kemeriahan-milad/

Adalah Mas Kumitir — sesepuh KWA bernomor anggota KWA 000 —- yang punya ide dan konseptor pembangunan arsitektur bernuansa Jawa di beberapa bangunan di Sidoarjo termasuk salah satunya Taman Tanjung Puri.

Pada saat Milad, beliau berkenan hadir dan memberikan arahan kepada panitia agar memberikan sesajen kepada penunggu goib di taman tersebut. Mas Kumitir mengatakan kepada saya bahwa rumah induk (yang kini terbakar itu) adalah rumah yang sakral, wingit dan angker. Tidak banyak orang berani memasuki rumah tersebut. Pada tukang kebersihan sering mendengar seperti ada orang mandi di toilet. Padahal  tidak ada seorang pun di sana.

Berbekal masukan dan saran tersebut, maka saya pun memberikan sesajen di satu tempat dekat rumah Jawa tersebut. Kita hidup di Jawa, sudah sepantasnya kita mengikuti tradisi leluhur kita dulu. Memberikan penghormatan kepada apa yang leluhur lakukan. Mereka telah berjuang, mereka memberikan tuntunan hidup sesuai kebiasaan dan pola hubungan dengan alam agar senantiasa harmonis dan serasi. Tidak ada yang salah dengan local genius tersebut.

Mas Kumitir adalah penggiat dan pelestari budaya berbungkus agama. Tidak mungkin memberi nama PRAJA ANANTA RAYA bila tidak ada maksud. Namun ketika saya tanya kepadanya apa artinya kalimat itu, beliau seakan memberikan ruang kepada saya untuk mengartikannya. Saya pun mencoba untuk sedikit membuka maknanya yaitu Praja artinya kerajaan/Negara. Ananta berasal dari kata An Atta yang artinya tiadanya diri ‘aku’ ego. Raya artinya besar. Jadi maknanya adalah Negara akan menjadi besar bila para pemimpinnya menghilangkan ego, keakuannya untuk kepentingan yang lebih utama yaitu kemajuan Negara.

Kini,  rumah itu telah menjadi puing. Yang tersisa hanyalah kenangan bahwa kemarin kita sudah menjejakkan kaki di dalamnya untuk sekedar menghirup nafas dan aroma kebersahajaan ala Jawa dengan berbagai romantismenya.

Selamat jalan Praja Ananta Raya….

@KWA,2018

 

Iklan

Susunan Acara


Susunan Acara Rutin Cangkruan kwa 2018

Minggu ke 1
Materi :
Istigosah atau baca surat yasin bersama.
Pengisi materi :
Mbah duro
Ki Rahmat – Mojokerto

Minggu ke 2
Materi :
Latihan Terawangan
Pengisi materi :
Nyai sekar kahuripan ( KRK )
Ki Suling.

Minggu ke 3
Materi :
Buka Aura
Pengisi Materi :
Ki septyan.

Minggu ke 4
Materi
Pembahasan tentang keris dan memiliki Benda pusaka

Pengisi Materi
Ki heri
Ki Bc

Tukang parkir
KWA

Matur nuwun dulur,sekian dan terimakasih🙏🙏🙏🙏🙏

BAKSOS KWA DIISI DENGAN DZIKIR NAFAS BUKA AURA


KAMPUS WONG ALUS (KWA) MENGADAKAN KEGIATAN RUTIN
SETIAP KAMIS MALAM 19.00 WIB SD JAM 21.00 WIB
TEMPAT: PENDOPO TAMAN TANJUNG PURI, SIDOARJO, JAWA TIMUR
ACARA: SILATURAHIM ALA JAWA TIMURAN “CANGKRUKAN”

MINGGU DEPAN DIISI DENGAN DZIKIR NAFAS PEMBUKA AURA

PENGASUH KI SEPTIAN DAN KI SULING

DITAMBAH DISKUSI NGOBROL RINGAN SANTAI SEPUTAR DUNIA ILMU HIKMAH DAN SUPRANATURAL … 
TIDAK PERLU CANGGUNG MALU DAN BINGUNG
DI KAMPUS WONG ALUS SEMUA SAMA
TIDAK PERLU MENDAFTAR JADI ANGGOTA KWA
ANDA HANYA PERLU MENGISI BUKU TAMU SAJA
TUJUANNYA ADALAH UNTUK MENJALIN SILATURAHIM DAN BELAJAR
TTD 
KI WONGALUS

======================
MONGGO RAWUH DULUR…. GRATIS DAN TERBUKA UNTUK UMUM, KITA SEMUA BERSAUDARA
====================

LOKASI TAMAN TANJUNG PURI:

BERIKUT PETA DI GOOGLE MAPNYA:

https://goo.gl/maps/WhJ55Ks77sT2

Futurologi: Era Revolusi Industri 4.0, Persiapan Indonesia, dan Revolusi Kemanusiaan


 

Tahun 1813 atau dua abad silam, tranformasi perdagangan terjadi dengan lahirnya mesin uap yang membuat kapal-kapal layar ditinggalkan. Revolusi itu menggilas penguasa perekonomian lama yang gagal beradaptasi dengan kemajuan teknologi dan gagap mengatasi perubahan hingga akhirnya terpaksa gulung tikar.

Situasi yang nyaris sama kembali muncul dengan digitaslisasi ekonomi dan sendi-sendi kehidupan lainnya atau dikenal dengan revolusi industri 4.0.  Fase ini mencakup terus berkembangnya kecerdasan buatan, penggunaan robot, teknologi pesawat tanpa awak (drone), mobil yang dapat berjalan otomatis, hingga perkembangan bioteknologi. Revolusi 4.0 merupakan penggabungan dunia digital (online) dengan lini produksi di industri. Semua proses produksi akan berjalan beriringan bersama internet sebagai penopang utama.

Tantangan revolusi industri 4.0 harus direspons secara cepat dan tepat oleh semua pihak khususnya para pemangku kepentingan. Bukan hanya sektor ekonomi dan industri, namun juga semua layanan publik harus bergerak ke sana, jika tidak ingin terjadi krisis digital karena sumber daya manusia (SDM) kita tidak siap mengantisipasi dan beradaptasi dengan kemajuan teknologi.

Revolusi industri generasi keempat ini ditandai dengan kemunculan superkomputer, robot pintar, kendaraan tanpa pengemudi, editing genetik dan perkembangan neuroteknologi yang memungkinkan manusia untuk lebih mengoptimalkan fungsi otak. Hal inilah yang disampaikan oleh Klaus Schwab, Founder dan Executive Chairman of the World Economic Forum dalam bukunya The Fourth Industrial Revolution.

Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi telah mengubah dunia sebagaimana revolusi generasi pertama melahirkan sejarah ketika tenaga manusia dan hewan digantikan oleh kemunculan mesin. Salah satunya adalah kemunculan mesin uap pada abad ke-18. Revolusi ini dicatat oleh sejarah berhasil mengerek naik perekonomian secara dramatis di mana selama dua abad setelah Revolusi Industri terjadi peningkatan rata-rata pendapatan perkapita Negara-negara di dunia menjadi enam kali lipat.

Berikutnya, pada revolusi industri generasi kedua ditandai dengan kemunculan pembangkit tenaga listrik dan motor pembakaran dalam (combustion chamber). Penemuan ini memicu kemunculan pesawat telepon, mobil, pesawat terbang, dll yang mengubah wajah dunia secara signifikan. Kemudian, revolusi industri generasi ketiga ditandai dengan kemunculan teknologi digital dan internet.

Selanjutnya, pada revolusi industri generasi keempat, seperti yang telah disampaikan pada pembukaan tulisan ini, telah menemukan pola baru ketika disruptif teknologi (disruptive technology) hadir begitu cepat dan mengancam keberadaan perusahaan-perusahaan incumbent. Sejarah telah mencatat bahwa revolusi industri telah banyak menelan korban dengan matinya perusahaan-perusahaan raksasa.

Lebih dari itu, pada era industri generasi keempat ini, ukuran besar perusahaan tidak menjadi jaminan, namun kelincahan perusahaan menjadi kunci keberhasilan meraih prestasi dengan cepat. Hal ini ditunjukkan oleh Uber yang mengancam pemain-pemain besar pada industri transportasi di seluruh dunia atau Airbnb yang mengancam pemain-pemain utama di industri jasa pariwisata. Ini membuktikan bahwa yang cepat dapat memangsa yang lambat dan bukan yang besar memangsa yang kecil.

Oleh sebab itu, perusahaan harus peka dan melakukan instrospeksi diri sehingga mampu mendeteksi posisinya di tengah perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Sebagai panduan untuk melakukan introspeksi diri, McKinsey&Company memaparkannya dalam laporan berjudul An Incumbent’s Guide to Digital Disruption yang memformulasikan empat tahapan posisi perusahaan di tengah era disruptif teknologi.

Tahap pertama, sinyal di tengah kebisingan (signals amidst the noise). Pada tahun 1990, Polygram dicatat sebagai salah satu perusahaan recording terbesar di dunia. Namun, pada 1998 perusahaan ini dijual ketika teknologi MP3 baru saja ditemukan sehingga pemilik masih merasakan puncak kejayaan Polygram pada saat itu dan memperoleh nilai (value) penjualan yang optimal.

Contoh lainnya adalah industri surat kabar tradisional yang mengejar oplah dan pemasukan dari pemasangan iklan. Kemunculan internet yang mengancam dimanfaatkan oleh Schibsted, salah satu perusahaan media asal Norwegia yang menggunakan internet untuk mengantisipasi ancaman sekaligus memanfaatkan peluang bisnis.

Perusahaan ini melakukan disruptif terhadap bisnis inti mereka melalui media internet yang akhirnya menjadi tulang punggung bisnis mereka pada kemudian hari. Pada tahap ini, perusahaan (incumbent) merespons perkembangan teknologi secara cepat dengan menggeser posisi nyaman dari bisnis inti yang mereka geluti mengikuti tren perkembangan teknologi, preferensi konsumen, regulasi dan pergeseran lingkungan bisnis.

Tahap kedua, perubahan lingkungan bisnis tampak lebih jelas (change takes hold). Pada tahap ini perubahan sudah tampak jelas baik secara teknologi maupun dari sisi ekonomis, namun dampaknya pada kinerja keuangan masih relatif tidak signifikan sehingga belum dapat disimpulkan apakah model bisnis baru akan lebih menguntungkan atau sebaliknya dalam jangka panjang. Namun, dampak yang belum signifikan ini ditanggapi secara serius oleh Netflix tahun 2011 ketika menganibal bisnis inti mereka yakni menggeser fokus bisnis dari penyewaan DVD menjadi streaming. Ini merupakan keputusan besar yang berhasil menjaga keberlangsungan perusahaan pada kemudian hari sehingga tidak mengikuti kebangkrutan pesaingnya, Blockbuster.

Tahap ketiga, transformasi yang tak terelakkan (the inevitable transformation). Pada tahap ini, model bisnis baru sudah teruji dan terbukti lebih baik dari model bisnis yang lama. Oleh sebab itu, perusahaan incumbent akan mengakselerasi transformasi menuju model bisnis baru. Namun demikian, transformasi pada tahap ini akan lebih berat mengingat perusahaan incumbent relatif sudah besar dan gemuk sehingga tidak selincah dan seadaptif perusahaan-perusahaan pendatang baru (startup company) yang hadir dengan model bisnis baru.

Oleh sebab itu, pada tahap ini perusahaan sudah tertekan pada sisi kinerja keuangan sehingga akan menekan budget bahkan mengurangi beberapa aktivitas bisnis dan fokus hanya pada inti bisnis perusahaan incumbent.

Tahap keempat, adaptasi pada keseimbangan baru (adapting to the new normal). Pada tahap ini, perusahaan incumbent sudah tidak memiliki pilihan lain selain menerima dan menyesuaikan pada keseimbangan baru karena fundamental industri telah berubah dan juga perusahaan incumbent tidak lagi menjadi pemain yang dominan. Perusahaan incumbent hanya dapat berupaya untuk tetap bertahan di tengah terpaan kompetisi.

Pada tahap inipun para pengambil keputusan di perusahaan incumbent perlu jeli dalam mengambil keputusan seperti halnya Kodak yang keluar lebih cepat dari industry fotografi sehingga tidak mengalami keterperosokan yang semakin dalam. Berangkat dari tahapan-tahapan ini seyogianya masing-masing perusahaan dapat melakukan deteksi dini posisi perusahaan sehingga dapat menetapkan langkah antisipasi yang tepat.

Tantangan terberat justru kepada para market leader di mana biasanya merasa superior dan merasa serangan disruptif hanya ditujukan kepada kompetitor minor yang kinerjanya tidak baik. Oleh sebab itu, perusahaan incumbent perlu terus bergerak cepat dan lincah mengikuti arah perubahan lingkungan bisnis dalam menyongsong era revolusi industri generasi keempat (Industry 4.0).

Reed Hasting, CEO Netflix pernah mengatakan bahwa jarang sekali ditemukan perusahaan mati karena bergerak terlalu cepat, namun sebaliknya yang seringkali ditemukan adalah perusahaan mati karena bergerak terlalu lambat.

Revolusi industry 4.0 ini ditandai pula dengan tren digital mengubah industri menjadi 7 bagian. Pertama menjadi sharing economy, saling interkoneksi satu sama lain dengan big data, sehingga bisa saling berbagi. Kemudian, disintermediasi, dekonstruksi rantai nilai, dan platform yang terintegrasi. Selain itu juga tren menuju revolusi industri 4.0 dan digital ekonomi.

Tren digital mengubah lanskap industri jasa keuangan dari industri petahana seperti perbankan, pasar modal, dan industri keuangan non bank menjadi sistem online, otomasi proses bisnis, transformasi organisasi, dan revisi value propositioning. Prinsip inovasi yang baik itu dilihat dari asas manfaat, asas keadilan, asas keterbukaan, asas keteraturan, anti pencucian uang, serta anti pendanaan teroris.

Di Indonesia, sebagai gambaran terjadi inklusi keuangan masih rendah dan distribusi layanan keuangan belum merata. Literasi keuangan juga rendah. Financing gap masih besar, di Pulau Jawa itu overbanked, sedangkan di Sumatera, Kalimantan dan Papua masih underbanked. Dari total populasi di Indonesia sebanyak 262 juta orang, sebanyak 132,7 juta merupakan pengguna internet dengan penetrasi mencapai 51%. Dari angka tersebut, yang aktif di sosial media sebanyak 106 juta orang dengan penetrasi 40%.

Persiapan Indonesia

Pemerintah berkomitmen membangun industri manufaktur yang berdaya saing global melalui percepatan implementasi Industri 4.0. Untuk itu, Making Indonesia 4.0 sebagai sebuah peta jalan dan strategi Indonesia memasuki era digital yang tengah berjalan saat ini, resmi diluncurkan. Presiden Joko Widodo pada acara Peluncuran Making Indonesia 4.0 Rabu (4/4)  menyampaikan optimismenya terhadap peluncuran Making Indonesia 4.0 yang akan berdampak positif terhadap Indonesia. Revolusi industri 4.0 dampaknya akan 3.000 kali lebih dahsyat dari revolusi industri pertama sekitar 200 tahun yang lalu.

Pada kesempatan tersebut, Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto menyampaikan, industri nasional membutuhkan konektivitas serta interaksi melalui teknologi, informasi dan komunikasi yang terintegrasi dan dapat dimanfaatkan di seluruh rantai nilai manufaktur guna mencapai efisiensi dan peningkatan kualitas produk. Making Indonesia 4.0 memberikan arah yang jelas bagi pergerakan industri nasional di masa depan. Termasuk fokus pada pengembangan lima sektor manufaktur yang akan menjadi percontohan. Serta menjalankan 10 inisiatif nasional dalam upaya memperkuat struktur perindustrian Indonesia.

Penyusunan peta jalan ini telah melibatkan berbagai pemangku kepentingan, mulai dari institusi pemerintah, asosiasi industri, pelaku usaha, penyedia teknologi, maupun lembaga riset dan pendidikan. Airlangga pun meyakini, melalui komitmen serta partisipasi aktif dari seluruh pihak tersebut, implementasi Industri 4.0 di Indonesia akan berjalan sukses dan sesuai sasaran. Implementasi Making Indonesia 4.0 yang sukses, diklaim akan mampu mendorong pertumbuhan PDB riil sebesar 1-2% per tahun, sehingga pertumbuhan PDB per tahun akan naik dari baseline sebesar 5% menjadi 6-7% pada periode tahun 2018-2030. Dari capaian tersebut, industri manufaktur akan berkontribusi sebesar 21-26%  terhadap PDB pada tahun 2030.

Selanjutnya, pertumbuhan PDB bakal digerakkan oleh kenaikan signifikan pada ekspor netto, di mana Indonesia diperkirakan mencapai 5-10% rasio ekspor netto terhadap PDB pada tahun 2030.  Selain itu, Making Indonesia 4.0 menjanjikan pembukaan lapangan pekerjaan sebanyak 7-19 juta orang, baik di sektor manufaktur maupun non-manufaktur pada tahun 2030 sebagai akibat dari permintaan ekspor yang lebih besar. Dalam mencapai target tersebut, industri nasional perlu banyak pembenahan terutama dalam aspek penguasaan teknologi yang menjadi kunci penentu daya saingnya.

Adapun lima teknologi utama yang menopang implementasi Industri 4.0, yaitu Internet of Things, Artificial Intelligence, Human Machine Interface, teknologi robotik dan sensor, serta teknologi 3D Printing. Untuk penerapan awal Industri 4.0, Indonesia akan berfokus pada lima sektor manufaktur, yaitu industri makanan dan minuman, industri tekstil dan pakaian, industri otomotif, industri kimia, serta industri elektonik.

Sektor ini dipilih setelah melalui evaluasi dampak ekonomi dan kriteria kelayakan implementasi yang mencakup ukuran PDB, perdagangan, potensi dampak terhadap industri lain, besaran investasi, dan kecepatan penetrasi pasar . Di samping itu,Making Indonesia 4.0 memuat 10 inisiatif nasional yang bersifat lintas sektoral untuk mempercepat perkembangan industri manufaktur di Indonesia. Kesepuluh inisiatif tersebut, mencakup perbaikan alur aliran barang dan material, membangun satu peta jalan zona industri yang komprehensif dan lintas industri, mengakomodasi standar-standar keberlanjutan, memberdayakan industri kecil dan menengah, serta membangun infrastruktur digital nasional.

Kemudian, menarik minat investasi asing, peningkatan kualitas sumber daya manusia, pembangunan ekosistem inovasi, insentif untuk investasi teknologi, serta harmonisasi aturan dan kebijakan. Dengan adanya manfaat yang nyata, Indonesia berkomitmen untuk mengimplementasikan Making Indonesia 4.0 dan menjadikannya sebagai agenda nasional.

Revolusi Kemanusiaan Harus diperkuat

Ini tahun 2018 bung… era ketika semua telah berubah. Di era Revolusi Industri 4.0 ini, perlu kita tanamkan semangat kemanusiaan baru yang anti kekerasan dan antri penindasan. Barangsiapa yang masih suka menindas dan suka menggunakan cara-cara kekerasan untuk menyelesaikan masalah maka bersiapkan untuk terkubur. Zamanmu sudah usai bung! Ini sebuah zaman baru dimana generasinya semakin sadar diri bahwa kepemimpinan yang menjejak kemanusiaan akan lapuk dan terpuruk. Semangat zaman now adalah anti indoktrinasi dan ketokohan populer diganti dengan ketokohan diri. Ya, individu bisa memilih mana informasi yang cocok untuk dirinya sendiri. Zaman anti ideologi besar. Zaman Youtube, zaman Alan Walker!

Saat agama dikapitalisasi sebagai alat gebuk, telaah kembali ajaran Mahatma Gandhi jadi terasa sangat relevan dewasa ini. Sebab, bagi Gandhi kekerasan hanyalah ilusi yang alih-alih merampungkan persoalan, justru membuatnya kian keruh. Gagasan perdamaian Gandhi, yang mulanya terasa di Menara gading. Namun ayo didaratkan ke bumi dengan sangat rigid dan deskriptif.

Mohandas Karamchand Gandhi sendiri sudah mafhum dikenal khalayak sebagai guru spiritual dan aktivis politik asal India. Pria berperawakan mungil itu terlibat dalam upaya memerdekakan India dari cengkraman kolonial Inggris. Seperti pada suatu sidang, Gandhi yang kala itu menjadi pengacara muda minim pengalaman, terpaksa meninggalkan ruangan dan kliennya karena dilanda kegugupan. Bagian ini menjadi penanda jika penulis tak sekadar menyortir episode Gandhi yang penuh hingar bingar prestasi. Penulis ingin menunjukkan, Gandhi tetaplah manusia biasa yang punya kelemahan.

Ketika Gandhi sudah menemukan dirinya kembali, ia dihadapkan banyak persoalan semasa tinggal di Afrika. Ia ditendang keluar dari kereta karena menduduki gerbong kelas pertama, yang kala itu hanya disediakan untuk orang kulit putih. Puncak kesadaran sekaligus penyesalan Gandhi lahir di akhir pertengkaran dengan istrinya, Kasturbai. Saat itu, Gandhi yang baru menyelesaikan studinya di London telah menyatakan dirinya sepenuhnya beradab dan menyadari hak-hak legalnya.

Namun, istrinya adalah orang pertama yang ingin dibuatnya terkesan. Kepadanya Gandhi mulai menuntut hak-haknya sebagai suami. Sayang, Kasturbai merupakan perempuan teguh yang memiliki keinginannya sendiri. Konflik antara mereka pun tak terhindarkan hingga puncaknya adalah pengusiran Kasturbai yang tak tahan menghadapi kisruh rumah tangga. Gandhi pun menyesal dan mengutarakan maafnya kepada sang istri.

Sejak saat itu, perlahan tapi pasti Gandhi mengubah cara berpikirnya. Daripada memaksakan hak-haknya, ia bisa memilih memenuhi kewajibannya. Pikiran itu merupakan lompatan besar di kehidupan Gandhi. Prinsipnya bulat setelah itu, baginya, mengetahui adalah merasakan, merasakan adalah melakukan, melakukan adalah menjalani hidup. Dengan demikian, daripada memaksakan prinsipnya kepada istri, ia memilih untuk menunjukkan teladan dari dirinya sendiri. “Untuk mengubah orang lain, terlebih dahulu kamu harus mengubah dirimu.”

Suatu hari setelah lama meninggalkan Afrika Selatan, ia membalas sepucuk surat yang menyerukan para pemimpin dunia agar menyerukan hak asasi manusia. Ia berujar, “Berdasarkan pengalamanku, adalah lebih penting untuk memiliki piagam kewajiban asasi manusia.” Pernyataan itu diikuti dengan pencarian panjang untuk menemukan jalan perdamaian. Pencarian terbesar itu menuntunnya untuk mengambil sikap yang lebih radikal, yakni melepaskan semua unsur negatif dalam diri yang terwujud dalam sikapnya yang antikekerasan (nirkekerasan).

Dengan gerakan itu, ia berhasil menyebarkan pesan perdamaian hampir di seluruh India. Menjaga kewarasan publik dan tetap teguh tanpa ampun membela hak-haknya sebagai manusia. Nirkekerasan baginya adalah cara terbaik yang dapat mengubah tatanan sosial yang antagonis. Karena ia percaya, melakukan kebaikan dengan kekerasan adalah sia-sia, sebab kebaikan itu adalah semu, sedangkan kerusakan yang akan terjadi bersifat permanen.

Salah satu prinsip itu direproduksi lewat gerakan turun ke bawah langsung. Ia melakukan kampanye garam di India seraya menyebarkan gagasan ini. Pria itu melangkah cepat dalam tiap aksinya menyusuri jalan-jalan perkampungan India, hingga ke pantai untuk memproduksi garam bagi rakyat.

Maka di tahun 2018 ini, kita ambil semangat menghidupkan perdamaian anti kekerasan kembali dalam realitas masyarakat. Minimal menularkan kegelisahan  dan menjadikannya pengingat bersama, saat dunia terlampau gaduh dijejali aksi kekerasan berkedok agama dan pledoi harga diri. Disinilah, makna Allahu Akbar! Allah SWT tidak ridho pada manusia yang mengklaim dirinya superman dan superman pasti never return.

@2018

 

=KEGIATAN MINGGUAN RUTIN=


KAMPUS WONG ALUS (KWA) MENGADAKAN KEGIATAN RUTIN

SETIAP KAMIS MALAM 19.00 WIB SD JAM 21.00 WIB

TEMPAT: PENDOPO TAMAN TANJUNG PURI, SIDOARJO, JAWA TIMUR

ACARA: SILATURAHIM ALA JAWA TIMURAN “CANGKRUKAN”

DISKUSI NGOBROL  RINGAN SANTAI SEPUTAR DUNIA ILMU HIKMAH DAN SUPRANATURAL … 

TIDAK PERLU  CANGGUNG MALU DAN BINGUNG

DI KAMPUS WONG ALUS SEMUA SAMA

TIDAK PERLU MENDAFTAR JADI ANGGOTA KWA

ANDA HANYA PERLU MENGISI BUKU TAMU SAJA

TUJUANNYA ADALAH UNTUK MENJALIN SILATURAHIM DAN BELAJAR

 

TTD

KI WONGALUS

 

======================

MONGGO RAWUH DULUR…. GRATIS DAN TERBUKA UNTUK UMUM, KITA SEMUA BERSAUDARA

====================

LOKASI TAMAN TANJUNG PURI:

BERIKUT PETA DI GOOGLE MAPNYA: 

https://goo.gl/maps/WhJ55Ks77sT2

UNDANGAN TERBUKA MILAD KWA ke 9 TAHUN 2018


MONGGO HADIR SEDULUR-SEDULUR PEMBACA KWA PADA ACARA MILAD KAMPUS WONG ALUS (KWA) KE 9 TAHUN 2018…. GRATISSSSS…………..

WAKTU PENYELENGGARAAN  SABTU, 14 APRIL 2018.

MULAI PUKUL 07.00 WIB (PAGI) SD PUKUL 24.00 WIB (TENGAH MALAM)

ACARA:

  • SHOLAWATAN MULAI PUKUL 7 PAGI SD PUKUL 9 PAGI.
  • PERKENALAN DAN SILATURAHIM PUKUL 9 PAGI SD 10 PAGI
  • LAPAK KONSULTASI PERMASALAHAN HIDUP DAN BAKTI SOSIAL. PUKUL 10 PAGI  SD SORE
  • PENGIJASAHAN GRATIS DAN MATERI LAIN, PUKUL 19.00 WIB SD MALAM
  • DAN LAIN-LAIN

TEMA MILAD: GEMA SHOLAWAT UNTUK KEBERKAHAN HIDUP DAN PERDAMAIAN DUNIA.

TEMPAT MILAD: TAMAN TANJUNG PURI SIDOARJO.

BERIKUT PETA DI GOOGLE MAPNYA: 

https://goo.gl/maps/WhJ55Ks77sT2

PANITIA TIDAK MENYEDIAKAN PENGINAPAN, TIDAK MENYEDIAKAN MAKAN DAN MINUM, SERTA SEDULUR YANG HADIR DI FORUM INI DIHARAPKAN MANDIRI. 

SEDULUR YANG HADIR DARI LUAR KOTA BISA MENGINAP DI PENGINAPAN DAN HOTEL YANG TERSEBAR DI SIDOARJO.

silaturahim nasional kwa candi mendut jogja

LOKASI ACARA YAITU DI TAMAN TANJUNG PURI ADA DI DALAM KOTA SIDOARJO. 

DARI STASIUN KA SIDOARJO 5 MENIT NAIK ANGKUTAN ONLINE.

DARI BANDARA JUANDA SEKITAR 25 MENIT 

DARI TERMINAL SEKITAR 25 MENIT.

UNTUK PARA SESEPUH DAN PENDEKAR ILMU HIKMAH SE NUSANTARA, MONGGO HADIR DAN BERBAGI KEPADA SEDULUR SEMUA….. KAMI MEMANGGILMU!

MILAD INI UNTUK UMUM DAN SEMUA KALANGAN DAN SEMUA UMUR. TIDAK KHUSUS UNTUK KALANGAN TERTENTU SAJA. KITA SEMUA BERSAUDARA. SEMUA ADALAH SAHABAT. SEMUA ADALAH TEMAN. TIDAK ADA MUSUH DI FORUM INI. 

BEBAN HIDUPMU ADALAH BEBAN HIDUPKU. PENDERITAANMU ADALAH PENDERITAANKU. KEBAHAGIAANMU ADALAH KEBAHAGIAANKU JUGA. BISMILLAHIRROHMANIRROHIM….

SALAM PASEDULURAN….

TTD

PANITIA MILAD KWA 2018

 

 

Lepas Dari Belenggu Pikiran Melalui Pintu Kesadaran


Penulis : Adi W. Gunawan

“The human condition: lost in thought.”
~ Eckhart Tolle

Saya sengaja memberikan judul yang menggigit untuk artikel ini.
Banyak orang yang salah mengerti bila saya berbicara mengenai
pikiran. Semua buku dan artikel yang saya tulis selalu berbicara
mengenai pikiran. Banyak yang bertanya pada saya, “Pak, berarti kunci untuk mencapai sukses atau kebahagiaan adalah dengan pikiran?”

“Ya dan belum tentu,” jawab saya.

Lha, kok bisa ya dan belum tentu. Bukankah semua ini hanya permainan
pikiran?

Anda benar sekali. Semua adalah permainan pikiran. Namun sayangnya
sering kali yang kita alami adalah kita dipermainkan pikiran kita
dalam suatu permainan yang pikiran mainkan dengan tidak main-main.

Bingung?

Manusia pada umumnya, tanpa mereka sadari, hanya menjalani kehidupan
dalam koridor penjara pikiran yang sempit yang dibatasi oleh tembok-
tembok tinggi persepsi. Mereka jarang sekali, jika tidak mau
dikatakan tidak pernah, mampu menjelajah melampaui perangkap penjara
pikiran yang dikondisikan oleh keterbatasan persepsi akibat
ketidaktahuan akan ketidaktahuan.

Dengan bahasa yang lebih sederhana manusia hidup dalam realitas yang
ditentukan oleh seperangkat aturan (baca: program pikiran) yang ada
dalam pikirannya. Kita tidak melihat segala sesuatu apa adanya. Kita
melihat sesuatu apa kita-nya.

Sang Buddha pernah berkata, “Pikiran itu sungguh sukar diawasi. Ia
amat halus dan senang mengembara sesuka hati. Karena itu hendaklah
orang bijaksana selalu menjaganya. Pikiran yang dijaga dengan baik
akan membawa kebahagian. Pikiran itu mudah goyah dan tidak tetap,
sulit dijaga dan sulit dikuasai; namun orang bijaksana akan
meluruskannya, bagaikan seorang pembuat panah meluruskan anak panah.”

Benar, kita bisa mencapai kebahagian atau sukses di bidang apa saja
dengan menggunakan pikiran secara benar. Namun bila kita tidak hati-
hati seringkali kita diperdayai oleh pikiran kita.

Ambil contoh “kebencian” dan “kebahagiaan” . Jika dilihat sekilas maka kita tahu bahwa “kebencian” adalah suatu emosi yang negatif
sedangkan “kebahagiaan” adalah emosi positif. Benarkah demikian?
Ternyata “kebahagiaan” justru bisa menjadi sumber masalah. Pikiran
yang terlalu melekat, atau selalu menginginkan, atau berusaha
mempertahankan “kebahagiaan” justru akan menimbulkan efek negatif.
Dan bahkan keinginan untuk bahagia bisa mengobarkan api “kebencian”.
Untuk lebih jelas mengenai hal ini Anda bisa membaca artikel saya
yang berjudul “Bahaya Kebencian dan Kebahagiaan” .

Untuk bisa keluar dari perangkap pikiran maka kita perlu mengerti
cara kerja pikiran. Dengan memahami cara kerja pikiran kita bisa
mengerti permainan yang sedang pikiran mainkan di suatu saat.
Sehingga kita, bukannya larut dalam permainan itu atau didikte dengan
suatu aturan main yang pikiran tetapkan sendiri, dapat menetapkan
rule of game yang menguntungkan diri kita.

Untuk itu mari kita amati proses belajar setiap manusia. Kita
melewati empat tahap belajar yaitu:
Unconscious Incompetence
Conscious Incompetence
Conscious Competence
Unconscious Competence

Pada tahap pertama, Unconscious Incompetence, kita tidak tahu kalau
kita tidak tahu. Misalnya, sewaktu kita masih kecil, kita tidak tahu
bahwa kita, saat itu, belum bisa jalan. Melalui interaksi dengan
orang dewasa atau lingkungan kita, yang masih kecil, akhirnya tahu
(Conscious Incompetence) bahwa kita belum bisa jalan. Mengapa? Karena
kita melihat orang di sekeliling kita berjalan tegak.

Selanjutnya kita mulai belajar berjalan dan akhirnya bisa berjalan
dengan sempurna (Conscious Competence). Sekarang, kita bahkan tidak
sadar lagi bahwa kita bisa jalan dengan sempurna (Unconscious
Competence). Kemampuan berjalan, yang dulunya kita pelajari dengan
begitu susah payah, mengalami jatuh bangun, bahkan ada yang sampai
kepalanya benjol karena jatuh, kini telah menjadi kecakapan yang
bekerja secara otomatis.

Nah, saat suatu skill telah masuk ke tahap Unconscious Competence
maka sejak saat itu, bila tidak dilakukan intervensi secara sadar,
skill ini akan bekerja dengan prinsip automatic pilot.

Hal yang sama berlaku juga dengan kecakapan berpikir, yang note bene
adalah keahlian pikiran itu sendiri.

Automatic pilot berfungsi untuk memudahkan hidup kita. Yang akan
dijalankan oleh sistem automatic pilot adalah program/kebiasaan yang
paling kuat. Baru-baru ini, saat sedang mengendarai mobil, saya larut dalam pemikiran yang cukup intens mengenai sesuatu. Saat itu pikiran (bawah sadar) saya secara otomatis mengambil alih kendali. Tanpa saya sadari, saat bertemu jalan yang bercabang dua, secara otomatis mobil saya belokkan ke kanan. Padahal rute yang seharusnya saya lewati adalah belok ke kiri. Jalan ke arah kanan adalah rute yang setiap hari saya lalui untuk ke kantor.

Nah, apa sih yang membuat kita terperangkap di dalam penjara pikiran?

Salah satu kebutuhan dasar manusia yang sangat menonjol adalah
kebutuhan akan konsistensi. Saat pikiran telah memutuskan untuk
menerima sesuatu sebagai “kebenaran” maka ia akan konsisten
dengan “kebenaran” itu. “Kebenaran” ini belum tentu sejalan
dengan “kebenaran” yang kita setujui kebenarannya. “Kebenaran”
menurut pikiran sejalan dengan pemikiran pikiran itu sendiri yang
didukung dengan berbagai pengalaman yang pernah kita alami.

“Kebenaran” ini dikenal dengan istilah belief. Jadi, setelah pikiran
mengadopsi suatu belief maka selanjutnya belief ini yang
mengendalikan pikiran. Tanpa intervensi yang dilakukan secara sadar
maka hidup kita sepenuhnya dikendalikan oleh berbagai belief yang
telah kita adopsi dan yakini kebenarannya.

Saat kita percaya/belief akan kebenaran sesuatu maka kita tidak akan
lagi mempertanyakan keabsahan data atau landasan pijak berpikir yang
digunakan sebagai dasar penerimaan suatu belief. Belief kita selalu
benar menurut kita. Yang benar menurut kita belum tentu benar menurut orang lain. Kita akan mati-matian mempertahankan belief kita karena kita yang memutuskan bahwa “sesuatu” itu adalah hal yang benar. Masa kita meragukan kebenaran yang telah kita putuskan “kebenarannya” ?

Lalu, bagaimana caranya untuk bisa keluar dari perangkap penjara
pikiran? Sesuai dengan judul artikel ini maka jalan kebebasan adalah
melalui pintu kesadaran.

Nah, Anda mungkin akan bertanya, “Mengapa harus melalui pintu
kesadaran?”

Hanya melalui pintu kesadaran kita bisa menyadari bahwa kita bukanlah pikiran kita, kita bukanlah perasaan kita, kita bukanlah kebiasaan kita, dan yang lebih penting lagi adalah bahwa kita bukanlah belief kita. Kesadaran membuat kita mampu untuk melakukan disosiasi atau pemisahan yang jelas.

Dengan kesadaran kita mampu melakukan metakognisi atau berpikir
mengenai pikiran. Dengan berpikir dan mengamati pikiran maka kita
akhirnya mengenal “sosok” pikiran kita. Kita akan tahu pola atau
kebiasaan yang pikiran lakukan. Dengan kesadaran kita dapat memahami
bahwa pikiran, walaupun merupakan piranti yang sangat luar biasa,
tetap hanyalah sebagian kecil dari kesadaran itu sendiri.

Lalu, bagaimana cara untuk bisa mengamati pikiran?

Oh, caranya mudah sekali. Yang perlu kita lakukan adalah belajar
untuk menjadi hening. Kita perlu membiasakan diri “berjalan” di
keheningan. Hanya dengan hening kita baru mampu mengamati pikiran
kita dengan jelas.

Pikiran ibarat segelas air yang keruh karena berisi kotoran atau
partikel kecil (baca: buah pikir). Dalam kondisi keruh kita tidak
akan bisa melihat melampaui gelas air itu. Kita tidak akan mampu
melihat dan mengamati berbagai komponen yang membuat air (baca:
pikiran) menjadi keruh.

Lalu, bagaimana caranya untuk bisa melihat partikel kecil yang
mengotori air? Bagaimana cara untuk bisa melihat melampaui gelas yang keruh?

Sekali lagi, caranya sangat mudah. Letakkan gelas yang berisi air
keruh dan biarkan selama beberapa saat. Jangan digerakkan atau diaduk-aduk. Biarkan saja.

Selang beberapa saat kotoran-kotoran itu akan mulai mengendap dengan
sendirinya, tanpa harus kita upayakan. Setelah semuanya mengendap air di gelas menjadi sangat jernih. Kotoran itu akan turun ke dasar gelas dan menjadi sangat mudah diamati. Kita juga akan dapat melihat
melampaui gelas. Mudah, kan?

Pertanyaannya sekarang adalah bagaimana caranya menjadi hening?

Setiap hari, selama sekitar 30 menit sampai 60 menit, lakukan
meditasi. Duduklah dengan tenang dan mulailah mengamati pikiran Anda. Bagi pemula Anda bisa melatih diri dengan melakukan meditasi 15 menit di pagi hari dan malam hari.

Pengamatan terhadap pikiran akan membawa kita pada pengenalan dan
pemahaman mendalam yang kita namakan kebijaksanaan. Nah,
kebijaksanaan inilah sebenarnya kunci pembuka pintu kebebasan kita.

Bill Gould, mentor saya, selalu berpesan pada saya, “if you want to keep growing, you have to challenge everything. Even your own thinking and beliefs.”

Sumber: Bebas Dari Penjara Pikiran Melalui Pintu Kesadaran oleh
Adi W. Gunawan,  Re-Educator and Mind Navigator, pembicara
publik, dan trainer dalam dan luar negeri.

@@@

Meloloskan Diri Dari Belenggu Pemikiran


Penulis : Ade Asep Syarifuddin

WAKTU saya kecil saya sangat kagum kepada kakak sepupu saya. Dia orangnya pintar, nilainya selalu di atas 8 setiap akhir ujian sekolah. Orangnya pendiam, tidak banyak bicara, tapi cukup rajin belajar. Kelas 4 SD, dia di-“ambil” oleh seorang dermawan kaya dan menyekolahkannya sampai selesai. Prestasinya tetap konsisten sampai di masuk ke ITB lewat PMDK. Saya pernah bertanya pada dia, mengapa dia selalu mendapatkan nilai yang tinggi, selalu rangking lima besar dan bisa masuk perguruan tinggi prestisius. Dia hanya menjawab sederhana, “Saya yakin saya bisa melakukannya. Tapi harus dibarengi dengan sikap ulet dalam belajar, jangan cepat bosan dengan buku-buku yang menumpuk dan saya selalu penasaran kalau belum menemukan jawaban terhadap soal-soal, saya tidak akan berhenti sebelum memperoleh jawabannya,” tuturnya. Sekarang dia bekerja di sebuah perusahaan rekanan yang memiliki omzet ratusan juta rupiah per bulan.

Sementara tetangga saya yang lain, dia hanya lulus SMA, sekolahnya juga swasta yang kurang bermutu. Nilainya selalu di bawah rata-rata, paling besar hanya 6, pernah tinggal kelas sekali waktu di SD. Setiap hari kerjaannya hanya ngerumpi temannya yang berprestasi tinggi dengan mengatakan, “Terang saja dia pintar kan karena bapaknya kepala sekolah. Dia nilainya tinggi kan karena dikatrol, dia dapat beasiswa kan karena katebelece dari orang tuanya.” Demikian kira-kira kerjaan setiap harinya sampai-sampai dia lupa kewajibannya untuk belajar. Kalau mengerjakan PR biasanya setengah jam sebelum masuk sekolah meminta kepada temannya untuk mencontek. Semalaman dia menonton televis sampai jam 12 malam, pagi-pagi kadang kesiangan bangunnya. Sekarang dia adalah pengangguran, keluar dari pekerjaannya karena banyak menggunakan uang perusahaan dengan cara tidak jelas.

Dua contoh kasus di atas bisa dijadikan representasi cara berpikir masyarakat kita. Orang pertama memiliki keyakinan bahwa dirinya mampu untuk melakukan sesuatu, sementara orang yang kedua memiliki keyakinan juga tapi keyakinan yang tidak memberdayakan dirinya alias yakin akan kekurangan dirinya. Keduanya menghasilkan sesuatu sesuai dengan jalan pikirannya, yang pertama menjadi orang sukses, sementara yang kedua menjadi pecundang dan menjadi beban masyarakat. Persoalannya sangat sepele kalau dilihat dari sisi manajemen pikiran, mau atau tidak pikiran memutuskan sesuatu sesuai dengan keinginan tuannya. Siapakah tuannya? Tuannya adalah kita sendiri. Kalau kita menyuruh pikiran untuk memprogram kesuksesan, maka pikiran dengan sangat cepat membuahkan hasil-hasilnya, sementara kalau kita memprogram pikiran untuk gagal, pikiran pun akan menjawab dengan segera dan menyodorkan kegagalan tersebut.

Kalau memang demikian, berarti pikiran bisa diarahkan dong? Benar sekali, kita dapat mengarahkan pikiran ke arah yang kita inginkan. Tapi bagaimana kalau yang teringat hanyalah kegagalan, kefrustrasian, ketidakpercayaan kepada diri sendiri, pesimis, negatif thinking, cemburu tidak beralasan, iri, dengki. Ini sudah bisa ditebak, hasilnya juga akan sama. Kalau kita tidak dapat melepaskan diri dari hal-hal tadi, ini artinya pikiran kita telah dikunci, telah dikungkung dan telah dibelenggu oleh sesuatu keyakinan yang tidak memberdayakan. Terlalu banyak alasan yang dikemukakan oleh masyarakat kita untuk memberikan pembenaran bahwa dirinya tidak mau untuk berusaha dan tidak mau bekerja keras. Ada yang berdalih, saya kan anak orang miskin, mana bisa jadi kaya, saya kan anak kampung, tidak mungkin bisa sukses seperti orang-orang yang tinggal di Jakarta, saya kan balung kere. Saya kan pendidikannya cuma SD, sementara pekerjaan mensyaratkan ijazah S-1, tidak mungkin dapat berkompetisi dengan anak kuliahan.”

Coba saja perhatikan di sekeliling Anda, apa yang dikatakan oleh kawan-kawan Anda, tetangga Anda, teman sejawat Anda. Lebih banyak memikirkan sesuatu yang positif atau yang negatif? Sudah bisa ditebak, 60% dari mereka selalu membicarakan sesuatu yang negatif, baik kepada orang lain maupun kepada dirinya sendiri. Hal lain yang perlu ditanyakan adalah, mengapa hal itu bisa terjadi, sejak kapan muncul pikiran negatif tadi. Sewaktu kita kecil, pikiran kita sangat bebas, tidak ada yang melarang. Kita bebas mengucapkan sesuatu walaupun salah, kita boleh mencoret-coret tembok karena masih kecil, kita boleh memecahkan gelas, kita boleh merobek-robek koran. Nyaris semua yang dilakukan baik benar ataupun salah diperbolehkan. Orang tua akan berkata, “Kan dia masih anak kecil, tidak apa-apa mencorat-coret tembok. Nanti juga kalau sudah besar mengerti dan menghentikan kebiasaannya.” Bahkan orang tuanya selalu bilang pinter terhadap apapun yang dilakukan sang anak tersebut walapun salah.

Ketika beranjak besar, biasanya di usia 4 atau 5 tahun perlakuan orang tua mulai berbeda. Kalau ada tindakan yang keliru langsung dibilang salah, bahkan tidak segan-segan kelopak mata orang tuanya diperlebar alias melotot. Sang anak menjadi ketakutan dengan respons orang tuanya yang agak berbeda tidak seperti biasanya. Tapi lagi-lagi anak mencoba sesuatu sampai-sampai memecahkan gelas, piring atau mainan dari listrik. Kontan aja tidak ada maaf bagi si anak. Tidak jarang anak dimaki-maki, dimarahin dan dihukum. Ditambah lagi ketika anak masuk sekolah dasar (SD) sewaktu pelajaran tertentu kebetulan anak tersebut mendapatkan nilai kecil, temannya bilang dia bodoh, gurunya pun bilang dia bodoh, sampai ke rumah orang tua dan kakak-kakaknya juga bilang bodoh. Tidak ada satupun yang mau mengerti mengapa dia mendapatkan nilai yang rendah.

Dalam perjalanan selanjutnya tidak heran anak-anak yang dididik dengan model ini menjadi introvert, rendah diri, tidak percaya kepada orang lain, cemburu dengan prestasi temannya. Celakanya sikap-sikap tersebut terus dibina hingga dewasa dan menjadi file permanen. Trauma-trauma masa kecil yang cukup menggunung tidak bisa lepas dari file-file pikirannya. Semua pengalaman masa lalu tersebut telah membelenggu pikirannya, telah membuat keyakinan-keyakinan yang sama sekali tidak memberdayakan. Bila tidak diterapi, maka kondisi seperti ini akan sangat merugikan masa depannya. Hidupnya kering, tidak bermakna. Dalam Neuro Linguistic Programming (NLP) kondisi seperti ini bisa diterapi dengan tool Reframing (membuat bingkai baru). Persepsi pikiran lama yang tidak memberdayakan digantikan dengan persepsi baru yang lebih memberdayakan.

Reframing ini adalah salah satu cara untuk lolos dari belenggu pikiran-pikiran yang tidak memberdayakan tadi. Ini bukan pekerjaan mudah, diperlukan usaha yang kuat dan sungguh-sungguh untuk keluar dari keyakinan negatif tadi. Misalnya, mengapa mesti cemburu kepada orang lain, kalau orang lain memiliki prestasi yang hebat kita mestinya senang karena kita dapat belajar dari mereka, tidak perlu jauh-jauh mencari orang yang bisa membantu. Kalau di dalam diri kita ada kekurangan tidak mesti rendah diri. Setiap orang memiliki kekurangan, belajarlah untuk menutupi kekurangan tersebut sampai kita memiliki kemampuan lain. Yang tidak wajar adalah tidak mengakui kekurangan dan tidak mau belajar untuk keluar dari kekurangan tadi. Sikapilah segala sesuatu di sekeliling kita secara proporsional, jangan terlalu berlebihan, jangan mudah menyimpulkan negatif padahal kita tidak memiliki bukti-bukti kongkrit dan jangan menilai seseorang hanya dari permukaan luarnya saja.

Milikilah prinsip-prinsip seperti, Pertama, sesuatu yang terjadi pada diri kita pada hari ini adalah sesuatu yang terbaik dalam pandangan Tuhan Yang Maha Kuasa. Kita tetap bersyukur kalau yang datang kepada kita terasa enak. Sebaiknya kita juga harus bersyukur kalau yang datang kepada kita terasa tidak enak secara fisik. Pernah ada satu cerita, seseorang yang mau terbang ke London terlambat datang di sebuah Bandara. Ia marah-marah kepada petugas bandara. Sekitar 15 menit kemudian terdengar kabar bahwa pesawat tersebut meledak. Dari sikap marah-marah ia langsung bersyukur dan segera menginsyafi sesuatu yang baru saja terjadi. Ini artinya, segala sesuatu yang terjadi pada diri kita adalah yang terbaik menurut pandangan Tuhan.

Prinsip kedua, tanyakan, apa hikmah positif dari segala kejadian yang menimpa kepada kita walaupun lagi-lagi terasa tidak enak dan merugikan dalam pandangan biasa. Bisnis kita rugi misalnya, tanyakan kepada diri sendiri, apa manfaat dari kerugian bisnis ini. Pikiran kita akan menjawab secara jujur, kalau bisnis rugi berarti kita harus belajar lagi kepada orang yang sudah sukses, hati-hari dalam manajemen keuangan, dan lain-lain. Segala kejadian pasti ada manfaat positif yang bakal datang kepada kita. Ketiga, sesuatu yang menurut kita baik belum tentu baik untuk kita. Manusia hanya memiliki pandangan mata, telinga, dan asumsi akal. Belum tentu yang sudah dipikir matang-matang akan berdampak baik juga. Artinya, kalau sudah memutuskan sesuatu, lakukanlah, tapi tetap tawakal dan pasrah kalau-kalau hasil yang datang tidak sesuai dengan rencana kita. Oleh karenanya, loloskanlah kita dari belenggu pikiran kita supaya kita tidak menjadi tahanan di dalamnya. Inilah langkah awal Success Revolution. (*)

*) Penulis adalah General Manager Harian Radar Pekalongan.

IJAZAH DOA MEMOHON AMPUNAN DAN PERLINDUNGAN DARI KEKUFURAN, SYIRIK, SOMBONG, TAKABUR, RIYA DAN BERBAGAI SIFAT TERCELA


Diijasahkan oleh hamba Allah yang tidak diketahui namanya. Doanya dibaca kapan saja dan seikhlasnya. Doanya sbb:

ALLOHUMMA IN DAKHOLA ASY SYAKKU FI IMANI BIKA WA LAM A’LAM BIHI AU A’LAM TUBTU ‘ANHU WA ASLAMTU WA AQULU LA ILAHA ILLA ALLAHU MUHAMMADUN RASULULLAH

Ya Allah, jika keimananku terdapat keraguan atas-Mu, baik aku sadari atau tidak, maka aku bertaubat dan berserah diri kepada-Mu, dan aku ucapkan tidak ada tuhan selain Allah, Muhammad itu utusan Allah.

Demikian semoga ada manfaatnya buat kita semua.

@kwa,2018

IJAZAH DOA RAHASIA ORANG ARIF


Dibaca seikhlasnya di waktu bebas. Doa ini diijasahkan Muhammad Abi Hamid al Gozali 2 Sya’ban 1279 H. Inilah doanya:

BISMILLAHIRROHMANIRROHIM. ALHAMDULILLAH ALLADZI NAWWARO BASA’IR AL ARIFIN, WAAL HAMAHUM FUTUH AL MUTTAQIN, WA ASARROHUM ASROR AL MUWAHHIDIN WA MA’RIFAT AHL ASSALAT WA ASSALAM ALA SAYYIDINA MUHAMMADIN SAYYID AL MURSALIN WA IMAM AL MUTTAQIN WA ‘ALALIHI WA ASHABIHI ILA YAUM AD-DIN.

Dengan Nama Allah yang maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Segala puji bagi Allah yang memberi cahaya pengelihatan bagi orang-orang arif dan menunjukkan kebaikan kepada orang-orang bertakwa, menyenangkan hati mereka terhadap rahasia orang-orang yang mentauhidkan Allah, dan mengenal keluarga Nabi Muhammad penghulu sekalian rasul dan pemimpin orang-orang yang takwa serta atas keluarganya dan sahabatnya sampai hari kiamat.

@kwa, 2018